Human
Banyak manusia yang takut akan kegagalan, yang diinginkan hanya berjalan mulus tanpa ada rintangan dan masalah yang menghambat perjalanan mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Kenyataan tidak dapat dibendung dengan sejuta rencana yang telah dipersiapkan berabad-abad tahun yang lalu, Otak cemerlang, harta yang melimpah, kedudukan yang tinggi, tidak menjamin akan keberhasilan pada setiap apa yang kita kehendaki. Bercermin merupakan salah satu strategi yang jitu untuk mengantisipasi adanya frustasi yang hyperfungsi sehingga mengakibatkan jatuhnya mental dan membuat kita menjadi terpuruk dalam keadaan yang tidak diinginkan, dimana keadaan itu membuat kita merasa orang yang paling merana di dunia sehingga memperlambat kita untuk bangkit dari keterpurukan tersebut.
Frustasi merupakan keadaan kejiwaan tertentu yang timbul pada diri seseorang saat berada dalam situasi, dimana kebutuhan tidak terpenuhi atau tujuan tidak tercapai. Frustasi sendiri akan dialami oleh semua orang, akan tetapi pengaruhnya tergantung pada kepribadian masing-masing individu, frustasi sangat berarti bagi dunia Pendidikan, karena dengan adanya frustasi seseorang akan berlatih dalam menghadapi tujuan apabila tidak tercapai, sehingga mereka terbiasa menghadapi frustasi dan menjadikan mereka kebal terhadap masalah yang biasanya memunculkan satu kehancuran, yang tidak lain adalah frustasi. Seseorang yang dalam keadaan terjepit, dalam artian mereka merasa gagal mencapai tujuan yang distandarkn dalam jiwanya memerlukan adanya motif atau dorongan yang muncul dalam jiwa karena adanya ketidakseimbangan/disequilibrium yang bersifat dinamis, selain itu mereka yang dalam keadaan tersebut membutuhkan respons emosional (pujian, perhatian, kasih sayang) pada hakikatnya seperti pernyataan Ralp Linton kebutuhan manusia ada tiga yaitu:
1. Respons Emosional.
2. Perasaan aman.
3. Pengalaman atau hal yang baru.
Kebutuhan hidup manusia tersebut apabila ada salah satu yang tidak terpenuhi, manusia akan menjadi tidak sempurna dan hidupnya menjadi tidak normal sebagaimana manusia yang lain.
By Lutfiatuz Zuhro


Tidak ada komentar:
Posting Komentar