Kamis, 28 Mei 2009

Cinta yang Haqiqi

Cinta Yang Haqiqi


Disebuah keheningan malam aku meratapi kesedihan….

Bintang bulan telah memandang

Seseorang yang begitu dalam

Terlarut dalam kesedihan

Air mata telah berlinang

Kesedihanpun begitu dalam

Hari demi hari berganti hari

Tak seorangpun yang mengerti isi hati

Ya robb…

Biarkan malam ini berlalu dengan sebuah kesunyian

Biarkan malam ini berlalu dengan perdamaian

Karena hati ini begitu rapuh

Karena hati ini begitu ragu

Bulan purnama bersinar terang

Dunia pun terang benerang

Namun,hati ini gundah

Tak ada sebuah kata indah

Ya robb..

Hati ini tak bisa membendung lagi

Hati ini begitu mencintai

Apakah salah jika aku mencintai

Apakah salah jika aku menyayangi

Asmara yang menggebuhi hati

Mengalahkan insang yang bersujud kepadamu

Patutkah aku mempertahankan itu

Laksana air yang sudah terkontaminasi

Jika ruang gelap menyelimuti

Mata tak bisa melihat lagi

Kebenaran keindahan dalam diri

Karena kegelapan telah menguasai

Ya Allah…

Berilah hambamu cinta yang haqiqi

Cinta yang mencintaimu

Jangan labuhkan cintaku bukan cinta karenaMu

Hanya cintamu yang selalu abadi

By M Hadi Purwanto

TASBIH ALAM

TASBIH ALAM

Dilubuk malam

Merenung aku terdiam

Menyaksi indah kuasa-Mu

Yang tak pernah mampu terlukiskan

Bertabur bintang

Sungguh t’lah isyaratkan Keagungan-Mu

Rembulan, Matahari, tata surya-pun

Kian bertasbih memuji karya-Mu

Subhanallah....!Subhanallah....!

Tiap kitaran revolusi mereka lantunkan

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun

Tiada henti mereka panjatkan pujian

Pujian penuh harapan

Ya Rabby...! Yaa....Rahman...!

Betapa tinggi nan luhur kasih-Mu

Tak mampu laku kami tuk memadu-Mu

By Muhammad Furqon

Cerpen-TAHTA MEMBAWA FITNAH

TAHTA MEMBAWA FITNAH

Sejuk, angin sepoi-sepoi menghela dedaunan nan indah, kicauan burung menghias bait-bait yang menerpa alam, kayu-pun melantunkan nada saling bersautan, begitulah keindahan desa yang biasa dikenal dengan desa terpimpin. Tidak hanya itu, keindahan bertambah dengan di anugrahkannya desa tersebut dengan seorang tokoh tersohor. Beliau selalu menjadi imam bagi masyarakat, dan masyarakat pun menaruh kepercayaan penuh padanya, bahkan hampir setiap menghadapi problema sepintas agama beliau pasti dihidangi sejumlah pertanyaan oleh penduduk setempat.

Sebut saja beliau Ustadz Yogi. Waktu itu ustadz Yogi adalah orang yang sangat tersohor dikalangan masyarakat bahkan menjadi sosok teladan, panutan hasanah bagi penduduk. Tiap minggu, tiap hari bahkan tiap berganti jam, rumah persinggahan Ustadz Yogi tak pernah sepi dari tamu yang meminta wejangan dan imbauan dalam menjalani roda kehidupan.

Di suatu hari, saat kadiaman ustadz Yogi sepi dari pengunjung, datanglah seorang pemuda asing kerumahnya untuk sowan, hendak memperkenalkan diri pada pemimpin tahta desa. Nampaknya pemuda itu adalah produk keluaran pesantren, sedikit banyak dia telah mengenyam Ulumuddin dan memiliki pribadi relijius yang mapan.

“Assaalamu’alaikum Ustadz!!!”, Ujar pemuda beruluk salam.

“Wa’alaikum Salam!!!”, Jawab Ustadz Yogi sambil mempersilahkan masuk.

“Siapakah engkau wahai pemuda?? Ada apakah gerangan mengunjungi gubuk kumuhku ini??”, Tanya Ustadz Yogi Sambil keheranan.

“Saya Rahman Ustadz!!, maksud kedatangan saya kesini untuk mohon ijin, berkenankah kiranya ustadz menerima kehadiran pengembara ini untuk bermukim di desa yang penuh akan karunia Allah ini?”, jawab pemuda memperkenalkan diri berikut menjelaskan maksud kedatangannya.

“ooooww!!, begitukah maksud kedatanganmu kemari!?, jika benar tulus hatimu tuk tinggal, silahkan!, dengan senang hati kami menerimamu”, saut ustadz memperkenankan Rahman menjadi anggota masyarakat.

Semenjak itu secara resmi Rahman telah menjadi bagian dari penduduk desa terpimpin. Dia bergaul, berinteraksi serta melakukan sosialisasi bersama dengan masyarakat desa.

Hari demi hari telah berganti bulan hingga hampir setahun Rahman tinggal, masyarakat-pun menyadari tentang skill yang dimiliki Rahman dibidang reliji, mulai dari segi peribadatan, Akhlakul Karimah, mendendangkan nada-nada Al-Qur’an hingga melantunkan sya’ir-sya’ir sholawat, dia lihai. Sungguh tak disangka seorang pemuda yang tak jelas asal usulnya mampu memikat hati masyarakat. Dengan keluhuran budi pekerti serta kebijaksanaan dalam mengambil tindakan dia menumbuhkan pesona tersediri dikalangan pemuda lain bahkan dikalangan generasi seniornya.

Kepopuleran Rahman menyebar ke seluruh penjuru desa, hingga melesat di telinga Ustadz Yogi, tanpa sadar terbesit di benak ustadz akan kekawatiran atas tahtanya yang kian memuncak tereliminasi oleh seorang anak kemarin sore.

“waduuhh!!! Kurang ajar…,berani-beraninya anak kencur mencoba menggusur kepemimpinanku!!!...”, gerutu ustadz Yogi dalam lamunan teriring rasa kawatir.

Hingga pada suatu ketika, menjelang hari raya Idul Adlha, salah seorang penduduk desa, bernama pak Parmin, dia mendapat masalah mengenai jumlah personal yang terhitung melaksanakan kurban untuk seekor sapi.

Kala matahari terbangun dari tidurnya, ditengah kabingungan yang mendalam, pak Parmin melangkahkan kakinya ke pasar, “lumayan belanja sambil refreshing”, bagitu anggapan pak Parmin dalam imajinasinya. Tanpa diduga, kebetulan pak Parmin bertemu dengan Ustadz Yogi yang juga sedang berbelanja di pasar pusat perbelanjaan desa. Kemudian bertanya-lah pak Parmin pada ustadz.

“Assalamu’alaikum Ustadz!!!”, sapa pak Parmin pada Ustadz yang sedang memilih buah-buahan.

“Wa’alaikum salam!!!”, saut ustadz menjawab salam.

kemudian pak Parmin pun menjabat tangan ustadz Yogi dengan penuh rasa hormat dan terjadilah komunikasi antara keduanya.

Pak Parmin : belanja sendiri ni Ustadz??

Ustadz Yogi : ia ni pak, Istri lagi nganterin anak imunisasi. Bapak sendiri nyari apaan?, dari tadi saya lihat, kok mondar-mandir kesana kemari, kayak orang bingung aja!!

Pak Parmin : yaa…bukan kayaknya lagi ustadz, ini memang lagi bingung beneran!!! Pusing banget, sudah tiga hari yang lalu saya puyeng mikirinnya

Ustadz Yogi : ada masalah apakah sampai hati bapak gundah gulana???

Pak Parmin : anu ustadz… Belakangan ini saya bingung gara-gara mikirin masalah hewan kurban

Ustadz Yogi : apa yang di bingungkan?, kalau sudah niat berkurban ya langsung aja, gak usah bingung

Pak Parmin : bukannya gitu, tapi saya bingung mengenai jumlah personal yang terhitung dalam melakukan kurban untuk ukuran seekor sapi…

Ustadz Yogi : ooowwww!!!!, Cuma itu…, kalau itu ma gampang. Kalau hewan kurban sapi itu untuk kurbannya tujuh orang

Pak Parmin : apa gak bisa ditambah pak ustadz!?!?! Untuk delapan orang gitu!!!

Ustadz Yogi : Wahh! Bapak ini gimana sih kalau jumlahnya segitu ya sudah!, gak bisa ditawar lagi. (jawab Ustadz dengan tegang)

Pak Parmin : waduuh ustadz…..!! anak saya kan tujuh orang, belum lagi saya dan istri.. gak dapat bagian donk!!, kalau saya sih gak masalah tapi istri saya kasian ustadz…!!! (sambil merengek-rengek pak Parmin memohon)

Ustadz Yogi : ngawur bapak ini!!, dibilangin gak mau! Memang bapak tau apa soal agama, udah dikasih tau masih tetap aja ngotot!!!. (bentak ustadz dengan muka memerah, pak Parmin pun ketakutan melihat ustadz marah. Kemudian ustadz melanjutkan omelannya). Dengerin ni pak!!!! KalAu memang sampean gak mau berkurban, ya udah gak usah kurban!!

Setelah selang beberapa saat tak sengaja cekcok tersebut di ketahui si Rahman yang kemudian menghampiri ustadz dan Pak Parmin.

Rahman : Assalamu’alaikum Bapak-bapak!!!

Pak Parmin : wa’alaikum Salam!!! (Ustadz pun menjawab salam dengan wajah sewot)

Pak Parmin : eh, Mas Rahman!!, mau kemana mas??

Rahman : Ooh! Ini pak saya mau nyari sarapan, maklumlah gak bisa masak sendiri. O yaa!!, ngomong-ngomong, dari tadi saya lihat bapak berdua sedang berebat sesuatu

Pak Parmin : ia ni mas, masalah saya belum terpecahkan.tadi saya sudah Tanya ke ustadz, kok jawabannya memberatkan saya ya!?!

Ustadz Yogi : jelas aja gak cocok, orang situ bawel terus!!! Di bimbing yang benar gak mau..! dasar bahlul!!!! (saut ustadz dengan marah-marah)

Pak Parmin : bukannya gitu ustadz, mas Rahman!!!, saya keberatan dengan pendapat ustadz, karena sulit sekali untuk saya ikuti (Ustadz pun cemberut mendengar ucapan pak Parmin)

Rahman : masalah apakah itu?, mungkin saya bisa membantu

Ustadz Yogi : alah!! Jangan sok deh loe!!, sok tau aja!!

Rahman : ya... tidak ada salahnya kan pak, saya yang bodoh ini ikut sumbang pendapat. Meski tidak terlalu berguna, barangkali bisa menolong

Pak Parmin : benar itu, sebagai manusia kita kan harus gotong royong

Ustadz Yogi : ok kalau gitu!! jawab aja kalau kau bisa bilangin orang tolol ini!!!? (gertak Ustadz menantang Rahman)

Rahman : memangnya permasalahan apakah itu pak??

Pak Parmin : begini mas Rahman-.,@!!!@??@@?_...............+)= (Pak Parmin menceritakan masalahnya pada Rahman)

Rahman : oo…! Jadi begitu…!,

Pak Parmin : ia mas.., gimana manurut mas?? Bisakah Bantu saya ini?

Rahman : kalau masalah kurban untuk versi seekor sapi, boleh-boleh aja di gunakan untuk korbannya delapan personal, sembilan juga boleh…! (Rahman menjawab dengan santai)

Ustadz Yogi : hey! Jangan ngawur kamu!!! (ucap Usadz Yogi dengan lantang)

Rahman : eit’s!! tapi sebentar dulu, saya belum selesai!!, sekarang saya punya pertanyaan untuk pak Parmin….!!!

Pak Parmin : apa itu mas!?

Rahman : nah..!!! kan sapi itu gedhe banget pak..!!, di akhirat nanti bapak dan keluarga bisa gak menungganginya??

Pak Parmin : yaa… kalau sapinya sebesar itu, kami gak bisa naik mas!!!, percuma donk..susah payah berkurban!!??!!

Rahman : aaa.....,kalau begitu, bapak dan keluarga mambutuhkan tangga untuk menaikinya… yaitu dua ekor kambing, baru bapak dan keluarga tidak sia-sia berkurbannya.. tapi jangan lupa yang tulus ya pak.., kurbannya!!???

Pak Parmin : wwwaaaaah…!!! Sip kalau jawabannya gitu mas!!! Saya bisa terima dan Insya-Allah kami sekeluarga akan ikhlas melaksanakannya. Terima kasih banyak mas Rahman!!!

Rahman : sama-sama bapak….!!!!

Selesailah masalah pak Parmin dengan jawaban Rahman dan bubarlah mereka. Ustadz-pun pulang dengan rasa malu yang teriring kemarahan sangat luar biasa. “bangsat!!, kurang ajar,!!!!, berani bener anak yang masih bau kencur mempermalukanku di muka umum!!! dia telah berani menjatuhkan martabatku!!!, sialan!. Awas kau Rahman brengsek…!!!”, gerutu Ustadz Yogi memaki-maki Rahman!!!. Semenjak itu ustadz Yogi selalu sinis atas apapun yang dilakukan Rahman. Entah setan apa yang telah merasuki nurani Ustadz Yogi, nafsu yang terhunus akan kemarahan telah menggerogoti hatinya. Karena jabatan sebagai pemuka agama terasa direngut Rahman, dengan segenap kebencian yang tak terbendung lagi, timbul-lah niatan busuk ustadz Yogi untuk menyingkirkan Rahman. Fitnahan demi fitnahan telah terlontar dari Ustadz Yogi guna melulu lantakan Rahman, bahkan kekerasan-pun dia lakukan. Namun apa yang terjadi?, ternyata takdir berkehendak lain, dengan fitnahan teriring kekerasan terhadap Rahman malah membuatnya semakin dibela dan disukai masyarakat sedang Ustadz Yogi malah makin dibenci dan terkucilkan. Akhirnya kekawatiran yang selama ini menghantui benar-benar terjadi. Dengan demikian, maka runtuh-lah ke-Ustadzan yang selama ini dibangga-banggakan Ustadz Yogi. Tahta tinggal-lah cerita, wibawa tinggal-lah hikayah, kehormatan-pun kini t’lah sirnah, maka musnahlah semua yang diandalkan manusia. “manusia telah diciptakan dalam keadaan lemah dan dengan kelemahan itu pula manusia tak mampu menjadi satu-satunya”.

By. Muhammad Furqon